Karimun, metro12news.id- Pembangunan jembatan di Desa Kundur, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, yang baru saja rampung pada 2025 mulai menuai kritik dari masyarakat. Proyek dengan nilai anggaran sekitar Rp1,4 miliar tersebut dinilai tidak menunjukkan kualitas sebagaimana yang diharapkan.
Di lapangan, kondisi jembatan terlihat belum tertata dengan baik. Saat hujan turun, akses jalan menjadi becek dan licin karena belum dilakukan pengaspalan. Selain itu, bagian tanah penahan di sisi kiri dan kanan jembatan tampak mulai terkikis aliran air, yang dikhawatirkan dapat berdampak pada kekuatan struktur bangunan.
Tidak hanya itu, beberapa warga juga mengaku melihat adanya indikasi awal kerusakan pada bangunan, seperti retakan di bagian tertentu. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa jembatan tersebut tidak akan bertahan lama apabila tidak segera dilakukan penanganan.
Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, setiap pihak memiliki tanggung jawab yang jelas. Kontraktor sebagai pelaksana wajib menjamin mutu pekerjaan sesuai spesifikasi, sementara konsultan pengawas bertugas memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar teknis. Pemerintah sebagai pemilik proyek juga memiliki peran penting dalam melakukan pengawasan agar hasil pembangunan sesuai dengan perencanaan.
Namun demikian, hingga saat ini pihak kontraktor maupun pejabat teknis kegiatan belum memberikan penjelasan resmi terkait kondisi jembatan tersebut.
Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa kondisi jembatan saat ini tidak mencerminkan nilai anggaran yang telah dikeluarkan. Ia juga menilai situasi tersebut dapat membahayakan masyarakat yang melintas, terutama saat musim hujan.
Dengan adanya berbagai temuan di lapangan, masyarakat meminta kepada Kejaksaan Negeri Karimun untuk segera memproses pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan jembatan tersebut serta mengembangkan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan ada atau tidaknya pelanggaran dalam pelaksanaan proyek. (Jaya)








